Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa bagi masyarakat Cirebon sudah tidak asing lagi mendengar kata Nasi Jamblang yaitu Nasi yang dibuat dan dijual oleh orang Jamblang. Bahkan mungkin juga kita sudah sama-sama menikmati lejatnya Nasi Jamblang beserta lauk pauknya yang bermacam-macam hampir berjumlah 30 macam jenis makanan yang dulunya hanyaampas kecap atau tauco, tempe goreng dan tahu goreng saja. Nasi Jamblang atau Sega Jamblang dikenal cukup luas tidak hanya masyarakat Cirebon saja, akan tetapi sampai juga ke Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Keistimewaan Nasi atau Sega Jamblang, disamping karena kelejatan dan kenikmatan cita rasa masakan, juga dibungkus dengan daun jati dan dimakan atau dinikmati sambil lesehan seperti menikmati gudeg Jogja di jalan Malioboro sambil mendengarkan lagu Tarlingan khas musik Cirebon dengan judul Sega Jamblang.
Keistimewaan lain adalah cara memasaknya, bahan bakarnya harus menggunakan kayu bakar. Karena apabila menggunakan kompor minyak maka rasa dari masakan pun akan berbeda, kurang sedap tentunya. Apabila nasi telah masak, kemudian diaduk-aduk sambil dikipasin menggunakan ilir ( kipas yang terbuat dari anyaman bilah bambu ) hingga adem merata ( diakeul ). Namun sedemikian terkenalnya Nasi Jamblang, adakah yang mengetahui riwayat atau asal-usul adanya Nasi atau Sega Jamblang...
Pada tahun 1847 Pemerintah Kolonial Belanda membangun pabrik gula di wilayah Gempol, pabrik gula di Plumbon, dan pabrik spiritus di Palimanan, 1983. Dengan dibangunnya beberapa pabrik yang cukup besar itu, maka jelas banyak membutuhkan tenaga kerja di Wilayah Kawedanan Palimanan, Plumbon dan sekitarnya.
Ramainya para pekerja di ketiga pabrik tersebut seperti gayung bersambut, karena jelas membutuhkan banyak pekerja atau buruh. Baik untuk di perkebunan sebagai buruh lepas maupun di pabriknya sendiri terutama di bagian perbengkelan, transportasi, administrasi dan bagian keamanan pabrik. Para buruh pabrik yang datangnya dari jauh ( Wilayah selatan ), seperti Sindangjawa, Cisaat, Cimara, cidahu, Ciniru, Cikalshsng, Bobos dan Lengkong harus pagi-pagi benar. Mereka membutuhkan sarapan sedangkan pedagang nasi pada waktu itu belum ada, paling ada juga penjual makanan ringan seperti jajanan dan sejenisnya. Pada waktu ada anggapan bahwa menjual nasi itu tidak boleh atau pamali, ini bisa dimaklumi karena peredaran uang masih sedikit, bahkan orang tua kita dulu banyak menyimpan padi atau beras. Mereka berfikir tidak menyimpan uang tidak apa-apa, namun apabila tidak menyimpan padi atau beras bisa sengsara, karena ada rasa ketakutan tidak bisa makan nantinya.
Di Jamblang ada seorang pengusaha pribumi yang bernama H. Abdulatif ( Ki Antra ), beliau banyak memiliki karyawan atau pegawai, maklum karena usaha beliau cukup banyak, anatara lain: Pejagalan sapi atau kerbau, pandai besi ( membuat keranjang ), dan masih ada beberapa lagi,beliaupun memiliki sawah yang cukup luas. Ny. Tan Piauw Lun ( Ny. Pulung ) adalah istri dari H. Abdulatif yang biasa mengurusi keperluan makan para pekerja suaminya. Melihat banyak buruh lepas pabrik yang mencari warung penjual nasi, maka H. Abdulatif pun memberanikan diri untuk memberikan sedekah beberapa bungkus nasi kepada para pekerja lepas tersebut.
Rupanya berita inipun menyebar dari mulut ke mulut, yang akhirnya bertambah banyak untuk meminta sarapan pagi. Ny. Pulung selalu menolak setiap pemberian uang dari para pekerja lepas, namun para pekerja menyadari bahwa segala sesuatunya dapat beli yang harus mengeluarkan uang tentunya, sehingga lambat laun para pekerja sepakat hanya memberikan imbalan ala kadarnya kepada Ny. Pulung.
Sebelum adanya pasar kueh di daerah Plered, dahulu di Jamblang terkenal dengan kuehnya terutama jajanan China, seperti kueh dodol, lemper, koci, cikak, pipis, awug yang biasa juga disedekahkan untuk orang hajatan, walimahan mengisi pontang yang bernama berkat. Nama berkat sendiri diambil karena memiliki 3 arti atau makna. Kurang lebihnya seperti ini, Berkat mempunyai mekna:
1. Sesuatu yang tidak ada menjadi adanya
2. Sedikit menjadi cukupnya
3. Jauh menjadi dekat atau akrabnya
"Sesuatu yang tidak ada menjadi adanya" artinya walaupun kita memiliki uang seratus ribu, kalaupun kita cari di pasar manapun untuk membeli berkat ya tidak ada penjualnya. lalu "Sedikit menjadi cukupnya", berkat ( makanan yang dibungkus dalam pontang ) yang dibagikan oleh si empunya hajat tidak pernah mengukur berapa banyak jumlah keluarga si tamunya di rumah. Namun ketika berkat itu dibawa pulang, maka orang se-rumah pun dapat menikmati semuanya. "Jauh menjadi dekat atau akrabnya", artinya dengan adanya acara hajatan ataupun walimahan, itu dapat mendekatkan atau mengakrabkan para warga untuk berkumpul, yang mungkin sebelumnya keseharianya jarang pernah ketemu satu sama lainnya. Namun karena "Berkat" mereka pun bisa berbagi, mengobrol atau lainnya.
Baik kita kembali kepada menisi pontang yang bernama berkat, semua makanan itu menggunakan pembungkus dari daun pisang klutuk, dan nasi Jamblang juga pada waktu itu menggunakan daun pisang klutuk ( pisang batu ). Oleh karena banyaknya penggunaan daun pisang klutuk sebagai pembungkus makanan, sudah tentu kebutuhan pesanannyapun menjadi meningkat 2X lipat. Akhirnya pedagang nasi Jamblang mencoba mencari daun yang masih jarang digunakan pada waktu itu, ternyata daun jati-lah dipilih sebagai pengganti untuk pembungkus nasi Jamblang. Dan hebatnya ternyata daun jati tidak kalah sedap atau nikmatnya dijadikan sebagai pembungkus nasi Jamblang, malah menjadikan nasi Jamblang menjadi lebih istimewa, sedap dan nikmat pastinya. Para pekerja dari wilayah selatan cirebon, seperti Sindangjawa, Cisaat dan lainnya, menjadi kebiasaan membawa daun jati dijadikan sebagai pelindung kepala dari terik panasnya sinar matahari ketika menunggu jemputan pekerja. Karena hebatnya, daun jati ternyata tidak mudah pecah/rusak, berbeda dengan daun pisang yang mudah sobek/rusak ketika terkena angin. Dan karena faktor itulah mengapa para penjual nasi Jamblang memilih daun jati sebagai prembungkus, namun bukan itu saja ternyata daun jati pun lebih bisa mengawetkan kondisi makanan ketika terbungkus didalamnya, menjadi tidak cepat basi walaupun terbungkus dalam waktu cukup lama. Oleh karena itu Ny. Pulung memesan banyak daun jati, yang diambil dari daerah Kadipaten pada tahun 1907 dengan menggunakan kereta api. Demikian menurut Ny. Jaenah ( Almh ) putri dari Ny. Hj. Aminah /H. Ishaq, cucu dari Ny. Pulung /H. Abdulatif sebagai generasi penerus III sebagai penjual nasi Jamblang.
* H. Abdulatif yang memiliki pejagalan di Pengkolan /Klangenan, mempunyai seorang putra bernama H. Ishaq. Sedangkan H. Sarim yang memiliki pejagalan disebelah utara pasar Jamblang pun memiliki seorang putri janda bernama Hj. Aminah, dan oleh kedua orang tua mereka pun dijodohkan serta di Nikah-kawinkan. Hj. Aminah sebelum menikah dengan H. Ishaq beliau sudah pernah menikah dengan Ki Dayim dan dikaruniai dua orang putra yaitu Ki Bunyamin dan Ki Kure. Sedangkan Ny. Hj. Aminah dengan H. Ishaq mempunyai anak masing-masing:
1. Ny. Jenah, yang meneruskan usaha nasi Jamblang
2. Ki Guru Kanan
3. Ki Tisna
4. Ny. Patonah
5. Ki Kuwu Machmud
Setelah usia Ny. Pulung sepuh, maka sebagai penerus usaha keluarga khususnya nasi Jamblang adalah minantunya yaitu Hj. Aminah dan dari Ny. Aminah ini berkembanglah penjual nasi jamblang. Dan dari keturunan Hj. Aminah /H. Ishaq saja memiliki dua generasi penerus, yaitu Ny. Jaenah /Kaprawi dan Ny.Tjas /Kure. Sedangkan dari pasar minggu ( Palimanan ) tercatat pedagang nasi Jamblang Ny. sawit, berkisar tahun 30-an dan Alkhamdulillah sampai sekarang pedagang nasi Jamblang tumbuh dan berkembang semakin pesat. Karena nasi Jamblang senantiasa menyesuaikan selera dari para konsumen sehingga dari lauk pauk yang tadinya hanya 3 macam saja sekarang mencapai 29 jenis masakan yang siap disajikan /dihidangkan.
** Nasi Jamblang Dijajakan Di Stasiun KA. Kejaksan
Ny.Patonah binti Kyai Sutara, Sidapurna yang pertama kali menjajakan nasi Jamblang di sekitar stasiun KA. Kejaksan - Cirebon setelah penjajahan Jepang tahun 1946. Ketika itu bersama keluarga tinggal di Jl. Pancuran, adapun pengalamannya belajar memasak dan menanak nasi Jamblang ketika ibundanya ( Ny. Sutara ) menisi tempe pada penjual nasi Jamblang Ny. Minol ( Utara pasar Jamblang ), Ny. Mitol ( Sidengok ), dan Ny. Biyol ( Serang - Klangenan ). Karena seringnya melihat bagaimana caranya membuat dan mengolah nasi Jamblang beserta lauk pauknya dari mulai pengolahan mentahanya hingga siap saji. Maka Ny. Patonah mulai mencoba berjualan nasi Jamblang dengan olahanya sendiri di sekitar stasiun KA. Kejaksan. Sebab di lokasi Terminal Gunung Sari sudah ada pengebernya, yaitu Ny. Tjas, Ny. Jaenah, dan Ny. Armina. Baru tahun 1950-an masuklah Mang Manta penjual nasi Jamblang dari Jamblang yang berjualan di stasiun KA. Kejaksan. Kini Ny. Patonah telah tiada dan diteruskan oleh putrinya Ny. Entin Haetin yang berjualan didalam kereta api jurusan Cirebon ( Kejaksan ) ke Jakarta ( Jati Negara ).
Macam-macam masakan /Lauk pauk yang disajikan dengan nasi /Sega Jamblang:
Sambal goreng, Telor dadar, Semur telor, Telor mata sapi ( Ceplok ), Daging /Dendeng bumbu laos, Hati ayam, Ampela ayam, Ikan asin ( panjelan ), Tempe Goreng, Paru ( kebuk ), Perkedel kentang, Sate kentang bumbu kelapa, Sayur tahu, Tahu goreng, Tongkol garing, Tongkol bumbu balado, Sate kerang, Sate usus, Pepes usus, Pepes jamur, Pepes rajungan, Sate telor puyuh, Hati sapi bumbu beefstik /kecap, Blekutak ( cumi/ sotong yang dimasak dengan air hitamnya ), Otak sapi goreng, Ayam goreng, Grejeg udang, Sate hati-ampela, Pepes ayam, Oreg ( terbuat dari tempe ) dan Tauco.
Nama-nama Dan Periodisasi Penjual Nasi Jamblang Dari Generasi ke Generasi
1. Generasi I, Ny. Tan Piauw Lun ( Ny. Pulung ) tahun 1907, lokasi Barat Cengkang Jamblang
2. Generasi II, Ny. Hj. Aminah ( Kaji Minol ) tahun 1920, lokasi Utara Pasara Jamblang
3. Generasi II, Ny. Takrim ( Ny. Mitol ) tahun 1922, lokasi Sidengok Kidul
4. Generasi II, Ny. Bia / Asmira ( Ny. Biol ) tahun 1922, lokasi Selatan Depris - Serang
5. Generasi III, Ny. Tjas / Kure tahun 1930, lokasi Utara Pasar Jamblang
6. Generasi III, Ny. Jaenah / Kaprawi tahun 1931, lokasi Utara Pasar Jamblang
7. Generasi III, Ny. Sawit / Hj. Siti Rohmah tahun 1932, lokasi Pasar Minggu Palimanan
8. Generasi III, Ny. Asih tahun 1932, lokasi kebon pring Jamblang
9. Generasi III, Ny. Masni'ah / Bas tahun 1932, lokasi Cikong, Serang Jamblang
10. Generasi III, Ny. Misti tahun 1932, lokasi Pecung Wetan
11. Generasi III, Ny. Armina tahun 1932, lokasi Pecung wetan
12. Generasi III, Ny. Patonah tahun 1946, lokasi Stasiun KA Kejaksan Cirebon
13. Generasi IV, Ny. Saltut / Salamah tahun 1950, lokasai Selatan Pasar Jamblang
14. Generasi IV, Ny. Samiri / Diman tahun 1950, lokasi Utara Pasar Jamblang
15. Generasi IV, Ny. Siti / Idris tahun 1950, lokasi Utara Pasar Jamblang
16. Generasi IV, Ny. Tjukup tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
17. Generasi IV, Ny. Rompang ( Lengko dan Nasi ) tahun 1950, lokasi Pasar Jamblang
18. Generasi IV, Ny. Marti'ah / Sardji tahun 1950 Sidengok Tengah
19. Generasi IV, Ny. Mus / Sukarta tahun 1950, lokasi Sidengok tengah
20. Generasi IV, Ny. Sani tahun 1950, lokasi Serang
21. Generasi IV, Ny. Res / Mbok Res tahun 1950, lokasi Serang
22. Generasi IV, Ny. Iti / Mbok Iti tahun 1950, lokasi Serang
23. Generasi IV, Ny. Sadari / Genyut ( Nasi/Lengko ) tahun 1950, lokasi Pasar Jamblang
24. Generasi IV, Ny. Muilah Tahun 1950, lokasi Timur Pasar Jamblang
25. Generasi IV, Ny. Ma'ani tahun 1950, lokasai Pecung wetan
26. Generasi IV, Ny. Sarimi tahun 1950, lokasi Barat Pasar Jamblang
27. Generasi IV, Ny. Sukini tahun 1950, lokasi Kebon pring, Jamblang
28. Generasi IV, Ny. Atjip tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
29. Generasi IV, Ny. Dari tahun 1950, lokasi Pecung Wetan
30. Generasi IV, Ny. Madari ( Nasi dan Lengko ) tahun 1950, lokasi Pandean, Jamblang
31. Generasi IV, Ny. Demplo tahun 1950, lokasi Kebon Pring, Jamblang
32. Generasi IV, Ny. Ratima tahun 1950, lokasi Kebon Pring, Jamblang
33. Generasi IV, Ny. Mani ( Nasi dan Lengko ) tahun 1950, lokasi Barat Pasar Jamblang
34. Generasi IV, Ny. Sukimi / Kayan tahun 1950, lokasi Pecung Wetan
35. Generasi IV, Ny. Bodag tahun 1950, lokasi Petapean
36. Generasi IV, Ny. Baenah ( Nasi dan Lengko )
37. Generasi IV, Ny. Sal / Kota tahun 1950, lokasi Sidengok Kidul
38. Generasi IV, Ny. Nawati / Tarub tahun 1950, lokasi Watukruyu
39. Generasi IV, Ny. Hj. Tjarmini / Tenya tahun 1950, lokasi Sidengok Kidul
40. Generasi IV, Man Karna tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
41. Generasi IV, Man Armad tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
42. Generasi IV, Man Djam tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
43. Generasi IV, Man Muktar tahun 1950, lokasi Pecung Wetan
44. Generasi IV, Man Ambari tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
45. Generasi IV, Ny. Rasini tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
46. Generasi IV, Man Bariya tahun 1950, lokasi Pecung Wetan
47. Generasi IV, Man Badjuri tahun 1950, lokasi Sidapurna
48. Generasi IV, Manta Marita tahun 1950, lokasi Stasiun KA. Kedjaksan Cirebon
49. Generasi IV, Man Rasban tahun 1950, lokasi Stasiun KA. Kedjaksan Cirebon
50. Generasi IV, Man Kurdi tahun 1950, lokasi Barat Pasar Jamblang
51. Generasi IV, Ny. Misna tahun 1950, lokasi Mlayon Kasugengan Kidul
52. Generasi IV, Man Saman tahun 1950, lokasi Sidengok Lor
53. Generasi IV, Man Kandim tahun 1950, lokasi Terminal Gunungsari
54. Generasi IV, Bpk. Sawer tahun 1950, lokasi Pecung Wetan
55. Generasi IV, Mbok Simpen tahun 1950, lokasi Watukruyu
56. Generasi IV, Mbok Retum tahun 1950, lokasi Watukruyu
57. Generasi IV, Ny. Kadmi tahun 1950, lokasai Watukruyu
58. Generasi IV, Ny. Hadsini tahun 1950, lokasi Watukruyu
59. Generasi IV, Sarkad / Bagreg tahun 1950, lokasi Pecung Kulon
60. Generasi IV, Tarsa tahun 1950, lokasi Pecung Kulon
61. Generasi IV, Mimi Kesol tahun 1950, lokasi Pecung Kulon
62. Generasi V, Ny. Um / Dapi tahun 1970, lokasi Utara Pasar Jamblang
63. Generasi V, Lilin sueb tahun 1970, lokasi Sidengok Kidul
64. Generasi V, Ny. Mani tahun 1970, lokasi Sidengok Kidul
65. Generasi V, Sdr. Sudjadi tahun 1970, lokasi Serang Jamblang
66. Generasi V, Sdr. Handa tahun 1970, lokasi Barat Pasar Jamblang
67. Generasi V, Sdr. Jaya / Sena tahun 1970, lokasi Keduanan
68. Generasi V, Sdr. Sadi / Miri tahun 1970, lokasi Dukujering Keduanan
69. Generasi V, Sdr. Subita / Gaber - Nani tahun 1970, lokasi Waruroyom
70. Generasi V, Ny. Sunarti tahun 1970, lokasi Waruroyom
71. Generasi V, Ny. Tumirah tahun 1970, lokasi Petapean
72. Generasi V, Man Sentana tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
73. Generasi V, Sdr. Tono tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
74. Generasi V, Ny. Kurini / Tarkum tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
75. Generasi V, Ny. Eye Sukeri tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
76. Generasi V, Ny. Das / Sarkawi tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
77. Generasi V, Sdr. Subur tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
78. Generasi V, Ny. Maskina tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
79. Generasi V, Ny. Dipon tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
80. Generasi V, Ny. Kea tahun 1970, lokasi Pecung kulon
81. Generasi V, Ny. Nunung Sarimi tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
82. Generasi V, Ny. Nunung Nurhayati tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
83. Generasi V, Ny. Masini tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
84. Generasi V, Ny. Yuyun tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
85. Generasi V, Ny. Sauharti / Tatit tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
86. Generasi V, Ny. Janisa tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
87. Generasi V, Ny. Samina tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
88. Generasi V, Sdr. Sarki tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
89. Generasi V, Ny. Eni / Sarkim tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
90. Generasi V, Ny. Nae Kartina tahun 1970, lokasi Pecung kulon
91. Generasi V, Ny. Rokasi tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
92. Generasi V, Ny. Buang tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
93. Generasi V, Ny. Kartini tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
94. Generasi V, Ny. Ipah tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
95. Generasi V, Ny. Sumarni tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
96. Generasi V, Sdr. Makmud tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
97. Generasi V, Sdr. Agung tahun 1970, lokasi Pecung Kulon
98. Generasi V, Ny. Kulsum / Maman tahun 1970, Sidengok Tengah
99. Generasi V, Ny. Sartini / Rusmana tahun 1970, lokasi Sidengok Tengah
100. Generasi V, Ny. Entin Haetin tahun 1970, lokasi Stasiun KA. Kedjaksan
101. Generasi V, Ny. Ijah tahun 1970, lokasi Utara Pasar Jamblang
102. Generasi V, Bpk. Abdul Rajak - Hj. Amini ( Mang Dul ) tahun 1970, lokasi Barat Pasar Jamblang
103. Generasi V, Ny. Hj. Rokani tahun 1970, lokasi Utara Pasar Jamblang
104. Generasi V, Ny. Iteng / Kurnia tahun 1970, lokasi Timur Pasar Jamblang
105. Generasi V, Hj. Entin / HR. Kusdiman tahun 1970, lokasi Utara Pasar Jamblang
106. Generasi V, Ny. Juju lokasi Timur Pasar Jamblang
107. Generasi V, Ny. Tuti lokasi Utara Pasar Jamblang
108. Generasi V, Ny. Lilik lokasi Selatan Pasar Jamblang
109. Generasi V, Ny. Jamina lokasi Utara Pasar Jamblang
110. Generasi V, Ny. Warkuna lokasai Kebon Seriong Jamblang
111. Generasi V, Ny. Hj. Naisa lokasi Kapling Lor, Kasugengan
112. Generasi V, Ny. Sutima lokasi Kapling Lor, Kasugengan
113. Generasi V, Ny. Rawinten lokasi Kapling Lor, Kasugengan
114. Generasi V, Ny. Benci lokasi Kapling Lor, Kasugengan
115. Generasi V, Ny. Witi lokasi Kapling Lor, Kasugengan
116. Generasi V, Ny. Gembrut lokasi Pecung Wetan
117. Generasi V, Ny. Sukaya lokasi Pecung Wetan
118. Generasi V, Ny. Sutini lokasi Pecung Wetan
119. Generasi V, H. Karba lokasi Pecung Wetan
120. Generasi V, Sdr. Ganda lokasi Pecung Wetan
121. Generasi V, Sdr. Tukang / Sarliya lokasi Pecung Wetan
122. Generasi V, Sdr. Sukara lokasi Sidengok Kidul
123. Generasi V, Ibu Iming Sarimi / Madkasan lokasi Sidengok Kidul
124. Generasi V, Ny. Maseni / Roni lokasi Sidengok Kidul
125. Generasi V, Ny. Fitri / Sudirman lokasi Sidengok Kidul
126. Generasi V, Ny. Sudarti lokasi Mlayon, Kasugengan Kidul
127. Generasi V, Bpk. Gunawan lokasi Mlayon, Kasugengan Kidul
128. Generasi V, Ny. Erma lokasi Mlayon, Kasugengan Kidul
129. Generasi V, Ny. Kanisa lokasi Mlayon, Kasugengan Kidul
130. Generasi V, Sdr. Sukatma lokasi Mlayon, Kasugengan Kidul
131. Generasi V, Ny. Isna Gabug lokasi Pecung Kulon
132. Generasi V, Ny. Keci lokasi Pecung Kulon
133. Generasi V, Ny. Arweni lokasi Pecung Kulon
134. Generasi V, Ny. Ratima lokasi Pecung Kulon
135. Generasi V, Ny. Tarkesi lokasi Pecung Kulon
136. Generasi V, Ny. Sami lokasi Pecung Kulon
137. Generasi V, Ny. Kunir lokasi Pecung Kulon
138. Generasi V, Ny. Kamini lokasi Pecung Kulon
139. Generasi V, Ny. Hj. Suti lokasi Pecung Kulon
140. Generasi V, Ny. Kulsum / Jinol lokasi Pecung Kulon
141. Generasi V, Sdr. Heri ( Fren ) lokasi Pecung Kulon
142. Generasi V, Ny. Sami / Jaya lokasi Pecung Kulon
143. Generasi V, Ny. Ningsih lokasi Pecung Kulon
144. Generasi V, Ny. Mari'a lokasi Pecung Kulon
145. Generasi V, Ny. Nukina lokasi Pecung Kulon
146. Generasi V, Ny. Seni lokasi Pecung Kulon
147. Generasi V, Ny. Ramini lokasi Pecung Kulon
148. Generasi V, Ny. Kesi lokasi Pecung Kulon
149. Generasi V, Ny. Purti lokasi Pecung Kulon
150. Generasi V, Ny. Aminah / Jamari lokasi Sidapurna
151. Generasi V, Ny. Aminah / Wahid lokasi Sidapurna
152. Generasi V, Ny. Rom / Badjuri lokasi Sidapurna
153. Generasi V, Ny. Badriyah lokasi Sidapurna
154. Generasi V, Ny. Iis Nashor lokasi Sidapurna
155. Generasi V, Ny. Faediyah lokasi Sidapurna
156. Generasi V, Ny. Tati / Anam lokasi Sidapurna
157. Generasi V, Ny. Supiya / Tura lokasi Sidapurna
158. Generasi V, Ny. Sumira / Bandi lokasi Sidapurna
159. Generasi V, Sdr. Toni Dama lokasi Sidapurna
160. Generasi V, Ny. Tum lokasi sidapurna
*Dikutip dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar