A. SDM
Guru
Menerapkan
PAKEM membutuhkan karakter guru kreatif, yang mampu mencari celah ditengah
keterbatasan, kepenatan, dan kejenuhan siwa. Guru kreatif mampu menyegarkan
suasana, membangkitkan, semangat, dan menompa potensi siswa. Guru kreatif mampu
menyuguhkan variasi pendekatan strategi yang dinamis, kontekstual, dan
pruduktif. Ironisnya, Mayoritas uru di Indonesia masih jauh dari kategori
kreatif ini. Mereka lebih suka menempatkan siswa sebagai objek, tidak
memberikan ruang diskusi interaktif, dan hanya berpikir menuntaskan target
kurikulum, tanpa melihat daya serap anak didik.
Sepanjang
guru masih bermental dan berkarakter semacam ini, maka pembaruan apapun yang
dilakukan, tidak banyak manfaatnya dalam dinamisasi potensi anak didik. Sebagai
sosok yang ditiru (dicontoh) dan digugu (didengarkan dan dipatuhi
perkataannya), guru mempunyai peran sentral dalam mengubah pandangan dan mental
anak didik. Bagaiman bisa mengubah anak didik, kalau gurunya sulit untuk
mengubah diri saendiri dengan gaya pembelajaran modern yang berbasis teknologi
dan kemandirian anak didik dalam menyerap pengetahuan dari berbagai dimensi
kehidupan.
Inilah
kendala utama aplikasi PAKEM, sehingga menjadi tanggung jawab besar kepala sekolah untuk mengubah mind set, frame thinking, dan paradigm berpikir para guru agar
mempraktikkan PAKEM secara professional dan kontekstual.
B.
Siswa Pasif
PAKEM
membutuhkan mentalitas siswa yang aktif, kritis, analistis, dan responsive.
Dengan mentalitas seperti ini, pembelajaran akan berjalan dengan gayeng, berkualitas, dan penuh makna.
Siswa semakin kaya akan pengetahuan, wacana, dan informasi. Kedewasaan dan
kematangan akan tumbuh dalam berdiskusi.
Namun,
mayoritas siswa di negeri ini masih termasuk kategori pasif. Mereka belum
terbiasa untuk bertanya, berdiskusi, dan berdebat. Ini tidak lepas dari fakta
selama ini bahwa sekolah bukan lembaga yang menyemai berpikir kritis, analitis,
dan solutif. Mereka hanya dipersiapkan sebagai pekerja perusahaan dan ruang
bisnis lainnya. Dalam konteks ini, tantangan terbesar ada pada guru. Bagaimana
ia bisa membangkitkan kritisisme siswa dengan cara-cara yang inspiratif,
motivatif, dan spektakuler.
C.
Sarana dan Prasarana
PAKEM
membutuhkan sarana prasarana yang represensative. Misalnya, ketika guru ingin
ada ruang diskusi yang berkualitas dan dipenuhi berbagai koleksi buku di
perpustakaan,maka dibutuhkanruang diskusi. Ketika guru ingin diskusi diruang
bebas yang sejuk dan indah, maka dibutuhkan lokasi yang dipenuhi hijau-hijauan
yang indah dan ad ataman yang kondusif. Ketika guru ingin mempraktikkan dialog
pengembangan bahasa asing,maka dibutuhkan laboratorium bahsa, dan sebagainya.
Memang,
tanpa sarana prasarana pun sebenarnya PAKEM bisa dilaksanakan, tergantung
kreativitas guru, namun hasilnya lebih memuaskan apabila ada sarana prasarana
yang mendukung. Dengan adanya sarana prasarana, guru, terlebih siswa, akan
semakin bersemangat dan menikmati proses pembelajaran yang terjadi, sehingga tanpa
terasa kualitas mereka meningkat pesat.
D. Lemahnya
Pengawasan
Guru membutuhkan pengawasan
dalam pengajarannya. Dalam aplikasi PAKEM, pengawasan harus lebih ditingkatkan.
Dengan adanya pengawasan langsung, guru akan terdorong untuk menerapkan PAKEM
dengan baik. Kepala sekolah seyogianya memberikan pengawasan insentif untuk
memberdayakan guru agar mereka kreatif dan inovatif dalam aplikasi PAKEM.
E. Manajemen
Kurang Mendukung
Manajemen terbuka dan demokratis
menjadi tempat subur tersemainya wacana kritis, analitis, dan solutif.
Manajemen sekolah yang transparan dan akuntabel akan mendorong guru untuk aktif
melakukan penelitian, eksperimental, dan pengembangan terus menerus. Dari
sinilah akan tercipta penemuan-penemuan baru yang spektakuler dan sensasional.
Dalam PAKEM, manajemen terbuka
dan demokratis sangat penting, karena memberikan ruang bebas kepada guru dalam
mengeksplorasi potensinya dan mengembangkan kreativitasnya secara maksimal.
F. Anggaran
Anggaran sangat dibutuhkan untuk
menggerakkan program. Kekuatan anggaran bisa mendinamisir kegiatan. Apliaksi
PAKEM membutuhkan anggaran besar, karena fasilitas buku, ruangan, dan lainnya
menjadi keniscayaan. Penataan lingkungan dan dukungan public membutuhkan
pemantapan secara terus menerus, baik insentif maupun ekstensif. Misalnya dalam
pelajaran PKn akan diadakan studi banding kelembaga legislative, eksekutif, dan
yudikatif supaya terjadi pematangan konsep. Kegiatan ini jelas membutuhkan
anggaran yang tidak sedikit. Ketika pelajaran fikih (hukum Islam), guru ingin
mempraktikkan cara merawat jenazah, maka maka diperlukan perlengkapan yang
tidak sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar