Sabtu, 26 April 2014

KENDALA APLIKASI PAKEM



A.    SDM Guru
Menerapkan PAKEM membutuhkan karakter guru kreatif, yang mampu mencari celah ditengah keterbatasan, kepenatan, dan kejenuhan siwa. Guru kreatif mampu menyegarkan suasana, membangkitkan, semangat, dan menompa potensi siswa. Guru kreatif mampu menyuguhkan variasi pendekatan strategi yang dinamis, kontekstual, dan pruduktif. Ironisnya, Mayoritas uru di Indonesia masih jauh dari kategori kreatif ini. Mereka lebih suka menempatkan siswa sebagai objek, tidak memberikan ruang diskusi interaktif, dan hanya berpikir menuntaskan target kurikulum, tanpa melihat daya serap anak didik.
Sepanjang guru masih bermental dan berkarakter semacam ini, maka pembaruan apapun yang dilakukan, tidak banyak manfaatnya dalam dinamisasi potensi anak didik. Sebagai sosok yang ditiru (dicontoh) dan digugu (didengarkan dan dipatuhi perkataannya), guru mempunyai peran sentral dalam mengubah pandangan dan mental anak didik. Bagaiman bisa mengubah anak didik, kalau gurunya sulit untuk mengubah diri saendiri dengan gaya pembelajaran modern yang berbasis teknologi dan kemandirian anak didik dalam menyerap pengetahuan dari berbagai dimensi kehidupan.
Inilah kendala utama aplikasi PAKEM, sehingga menjadi tanggung jawab besar kepala  sekolah untuk mengubah mind set, frame thinking, dan paradigm berpikir para guru agar mempraktikkan PAKEM secara professional dan kontekstual.
B.     Siswa Pasif

PAKEM membutuhkan mentalitas siswa yang aktif, kritis, analistis, dan responsive. Dengan mentalitas seperti ini, pembelajaran akan berjalan dengan gayeng, berkualitas, dan penuh makna. Siswa semakin kaya akan pengetahuan, wacana, dan informasi. Kedewasaan dan kematangan akan tumbuh dalam berdiskusi.
Namun, mayoritas siswa di negeri ini masih termasuk kategori pasif. Mereka belum terbiasa untuk bertanya, berdiskusi, dan berdebat. Ini tidak lepas dari fakta selama ini bahwa sekolah bukan lembaga yang menyemai berpikir kritis, analitis, dan solutif. Mereka hanya dipersiapkan sebagai pekerja perusahaan dan ruang bisnis lainnya. Dalam konteks ini, tantangan terbesar ada pada guru. Bagaimana ia bisa membangkitkan kritisisme siswa dengan cara-cara yang inspiratif, motivatif, dan spektakuler.

                                      
C.     Sarana dan Prasarana
PAKEM membutuhkan sarana prasarana yang represensative. Misalnya, ketika guru ingin ada ruang diskusi yang berkualitas dan dipenuhi berbagai koleksi buku di perpustakaan,maka dibutuhkanruang diskusi. Ketika guru ingin diskusi diruang bebas yang sejuk dan indah, maka dibutuhkan lokasi yang dipenuhi hijau-hijauan yang indah dan ad ataman yang kondusif. Ketika guru ingin mempraktikkan dialog pengembangan bahasa asing,maka dibutuhkan laboratorium bahsa, dan sebagainya.
Memang, tanpa sarana prasarana pun sebenarnya PAKEM bisa dilaksanakan, tergantung kreativitas guru, namun hasilnya lebih memuaskan apabila ada sarana prasarana yang mendukung. Dengan adanya sarana prasarana, guru, terlebih siswa, akan semakin bersemangat dan menikmati proses pembelajaran yang terjadi, sehingga tanpa terasa kualitas mereka meningkat pesat.

D.    Lemahnya Pengawasan
                Guru membutuhkan pengawasan dalam pengajarannya. Dalam aplikasi PAKEM, pengawasan harus lebih ditingkatkan. Dengan adanya pengawasan langsung, guru akan terdorong untuk menerapkan PAKEM dengan baik. Kepala sekolah seyogianya memberikan pengawasan insentif untuk memberdayakan guru agar mereka kreatif dan inovatif dalam aplikasi PAKEM.

E.     Manajemen Kurang Mendukung
                Manajemen terbuka dan demokratis menjadi tempat subur tersemainya wacana kritis, analitis, dan solutif. Manajemen sekolah yang transparan dan akuntabel akan mendorong guru untuk aktif melakukan penelitian, eksperimental, dan pengembangan terus menerus. Dari sinilah akan tercipta penemuan-penemuan baru yang spektakuler dan sensasional.
                Dalam PAKEM, manajemen terbuka dan demokratis sangat penting, karena memberikan ruang bebas kepada guru dalam mengeksplorasi potensinya dan mengembangkan kreativitasnya secara maksimal.

F.      Anggaran
                Anggaran sangat dibutuhkan untuk menggerakkan program. Kekuatan anggaran bisa mendinamisir kegiatan. Apliaksi PAKEM membutuhkan anggaran besar, karena fasilitas buku, ruangan, dan lainnya menjadi keniscayaan. Penataan lingkungan dan dukungan public membutuhkan pemantapan secara terus menerus, baik insentif maupun ekstensif. Misalnya dalam pelajaran PKn akan diadakan studi banding kelembaga legislative, eksekutif, dan yudikatif supaya terjadi pematangan konsep. Kegiatan ini jelas membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Ketika pelajaran fikih (hukum Islam), guru ingin mempraktikkan cara merawat jenazah, maka maka diperlukan perlengkapan yang tidak sedikit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar