Minggu, 05 Mei 2013

Teori Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
1.4.   Latar Belakang
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaanya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan, jika pendidikan memiliki ciri khas yang secara prinsipil berbeda dengan hewan.
Ciri khas manusia yang membedakanya dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu dari apa yang disebut dengan hakekat menusia. Disebut sifat hakekat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Pemahaman pendidikan terhadap sifat hakekat manusia akan membentuk peta tentang karakteristik manusia dalam bersikap, menyusun startegi, metode dan tekhnik serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi dalam interaksi edukatif.
Sebagai pendidik , kita wajib memiliki kejelasan mengenai hakekat manusia Indonesia seutuhnya. Sehingga dapat dengan tepat menyusun rancangan dan pelaksaaan usaha kependidikannya. Selain itu, seorang pendidik juga harus mampu mengembangkan tiap dimensi hakikat manusia, sebagai pelaksanaan tugas kependidikanya menjadi lebih profesional.
1.2  Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian latar belakang diatas, dapat diambil beberapa rumusan masalah antara lain:
a) Apa yang dimaksud dengan sifat hakikat manusia?
b) Bagaimana wujud sifat hakikat manusia?
c) Bgaimana pengembangan wujud sifat hakikat manusia?
1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini yaitu:
a)      Untuk mengenal lebih dalam tentang sifat hakikat manusia.
b)      Untuk mengetahui wujud sifat hakikat manusia.
c)      Untuk memahami pengembangan wujud sifat hakikat manusia


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian sifat dan hakikat manusia
Menurut ahli psikologi menyatakan bahwa hakekat manusia adalah rohani, jiwa atau psikhe. Jasmani dan nafsu merupakan alat atau bagian dari rokhani. Sifat hakikat manusia adalah ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan, meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama dilihat dari segi biologisnya.
Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan, menyusui anaknya dan pemakan segala. Bahkan carles darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera tapi ternyata gagal karena tidak ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera.
Disebut sifat hakikat manusia karena secara haqiqi sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Karena manusia mempunyai hati yang halus dan dua pasukannya. Pertama, pasukan yang tampak yang meliputi tangan, kaki, mata dan seluruh anggota tubuh, yang mengabdi dan tunduk kepada perintah hati. Inilah yang disebut pengetahuan. Kedua, pasukan yang mempunyai dasar yang lebih halus seperti syaraf dan otak. Inilah yang disebut kemauan. Pengetahuan dan kemauan inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang.
B.                  Sifat Hakikat Manusia
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya.
Bahkan beberapa filosof seperti Socrates menamakanmanusia itu Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) (Drijarkara, 1962: 138) yang selalu gelisah dan bermasalah.
Kenyataan dan pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa hewan dan manusia itu hanya berbeda secara gradual, yaitu suatu perbedaan yang melalui rekayasa dapat dibuat menjadi sama keadaannya, misalnya air karena perubahan temperature lalu menjadi es batu. Seolah-olah dengan kemahiran rekayasa pendidikan orang utan dapat dijadikan manusia. Padahal kita tahu bahwa manusia mempunyai akal dan pikiran yang dapat dijadikan sebagai perbedaan manusia dengan hewan.
C.     Komponen sifat dasar manusia
Menurut John Amos Comenius, manusia mempunyai tiga komponen jiwa yang menggerakkan aktifitas jiwa-raga. Tiga komponen jiwa tersebut meliputi: syaraf pertumbuhan, perasaan dan intelek. Oleh karena itu dikatakan, bahwa manusia mempunyai tiga sifat dasar. yaitu:
a.    Sifat tumbuh-tumbuhan, adalah salah satu sifat yang menjadikan manusia tumbuh secara alami dalam lingkunganya berdasarkan prinsip-prinsip biologis. Sifat ini didukung oleh syaraf pertumbuhan
b.    Sifat hewani, yaitu sifat yang mendorong manusia berkeinginan untuk mencari keseimbangan hidup. Melalui inderanya, manusia menjadi sadar dan menuruti keinginan-keinginanya. Hal ini disebabkan adanya perasaan di dalam jiwa manusia.
c.    Sifat intelektual, yaitu sifat yang mampu membedakan baik atau buruknya suatu obyek, dan dapat mengarahkan keinginan dan emosinya. Sifat intelektual manusia inilah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Dengan adanya sifat intelektual ini, manusia dilebihkan derajatnya dari makhluk-makhluk lain.
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya.
Bahkan beberapa filosof seperti Socrates menamakanmanusia itu Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) yang selalu gelisah dan bermasalah.
D.    Wujud sifat hakekat manusia
Secara garis besar, wujud sifat hakikat manusia dibagi menjadi delapan, yaitu :
a.        Kemampuan menyadari diri.
Menurut kaum rasionalis kunci perbedaan manusia dengan hewan pada adanya kemampuan adanya menyadari diri yang dimiliki oleh manusia. Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya (akunya) memiliki ciri khas atau karakteristik diri. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan aku-aku yang lain (ia, mereka) dan dengan non-aku (lingkungan fisik) disekitarnya. Bahkan bukan hanya membedakan lebih dari itu manusia dapat membuat jarak (distansi) dengan lingkungannya. Sehingga mempunyai kesadaran diri bahwa manusia mempunyai perbedaan dengan makhluk lainnya.

b.        Kemampuan bereksistensi.
Kemampuan bereksistensi yaitu kemampuan menempatkan diri, menerobos, dan mengatasi batas-batas yang membelenggu dirinya. Kemampuan menempatkan diri dan menerobos inilah yang disebut kemampuan bereksistensi. Dengan kata lain, adanya manusia bukan “ber-ada” seperti hewan dikandang dan tumbuh-tumbuhan di dalam kebun, melainkan “meng-ada” di muka bumi.
c.    Kata hati (Consecience Of Man), adalah kemampuan membuat keputusan tentang yang baik/benar dan yang buruk/salah bagi manusia sebagai manusia. Kata hati disebut pula hati nurani, pelita hati, dan sebagainya.
d.    Moral, disebut sebagai etika,jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan , maka yang di maksud dengan moral yang sering di sebut dengan etika adalah perbuatan itu sendiri . di sini tampak bahwa masih ada jarak antara kata hati dengan moral . artinya seseorang yang telah memiliki kata hati yang tajam belum tentu perbuatannya merupakan realisasi dari kata hatinya itu . untuk menjebatani jarak yang mengantarai keduanya masih ada aspek yang di perlukan yaitu kemauan . dari uraian tersebut dapat di simpulkan bahwa moral sinkron dengan kata hati yang tajam yaitu yang benar-benar baik bagi manusia , sebagai manusia merupakan moral yang baik atau moral yang tinggi .
e.    Tanggung jawab, kesedian untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab , merupakan pertanda dari sifat orang yang bertanggung jawab . wujud bertanggung jawab bermacam macam . ada tanggung jawab kepada tuhan , tanggung jawab kepada diri sendiri berarti menanggung tuntutan kata hati , misalnya dalam bentuk penyesalan yang mendalam . bertanggung jawab kepada masyarakat berarti menanggung tuntutan norma-norma sosial . bentuk tuntutan berupa sanski-sanski sosial seperti cemoohan masyarakat, hukuman penjara, dan lain-lain . bertanggung jawab kepada tuhan berarti menanggung tuntutan norma-norma agama , misalnya perasaan berdosa dan terkutuk .
f.      Rasa Kebebasan/merdeka adalah rasa bebas (tidak terikat oleh sesuatu) yang sesuai dengan kodrat manusia. Kemerdekaan berkait erat dengan kata hati dan moral. Yaitu kata hati yang sesuai dengan kodrat manusia dan moral yang sesuai dengan kodrat manusia.
g.    Kewajiban dan hak.
 Kewajiban merupakan sesuatu yang harus dipenuhi oleh manusia. Sedangkan hak adalah merupakan sesuatu yang patut dituntut setelah memenuhi kewajiban
h.    Kemampuan Menghayati Kebahagiaan , kebahagiaan itu rupanya tidak terletak pada keadaan sendiri secara faktual ( lulus sebagai sarjana , mendapat pekerjaan dan seterusnya ) ataupun pada rangkaian prosesnya , maupun pada perasaan yang di akibatkannya tetapi terletak pada kesanggupan menghayati semuanya itu dengan keheningan jiwa dan menundukan hal-hal tersebut di dalam rangkaian atau ikatan tiga hal itu yaitu : usaha , norma-norma , dan takdir . dapat di tarik kesimpulan bahwa kebahagiaan itu dapat di usahakan peningkatannya . ada dua hal yang dapat di kembangkan yaitu kemampuan berusaha dan kemampuan menghayati hasil usaha dalam kaitannya dengan takdir. Dengan demikian pendidikan mempunyai peranan penting sebagai wahana untuk mencapai kebahagiaan , utamanya pendidikan keagamaan .




PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia merupakan makhluk yang sempurna. Manusia memiliki akal untukmenghadapi kehidupannya di dunia ini. Akal juga memerlukkan pendidikan sebagai obyek yang akan dipikirkan. Fungsi akal tercapai apabila akal itu sendiri dapat menfungsikan, dan obyeknya itu sendiri adalah ilmu pengetahuan. Maka dari itu, manusia pada hakikatnya adalah makhluk peadagogis, makhluk social, makhluk individual, makhluk beragama.
Setiap manusia mempunyai hakekat dan dimensi yang dimilikinya. Dan dalam diri manusia itu terdapat potensi–potensi terpendam yang dapat ditumbuhkembangkan menuju kepribadian yang mantap.
3.2 Saran
Sebagai calon guru kita seharusnya memperhatikan anak didik dan memberikan bimbingan agar potensi–potensi terpendam yang terdapat dalam diri peserta didik dapat ditumbuhkembangkan menuju kepribadian yang mantap.






http://tsu-basith.blogspot.com/2012/09/sifat-dan-hakekat-kejiwaan-manusia.html
Arif, A. 2010. Manusia dan Pendidikan Hakikat Manusia dan Pengembangannya. http://m-arif-am.blogspot.com Diakses pada Maret 2011.tanggal 03





Tidak ada komentar:

Posting Komentar