BAB I
PENDAHULUAN
1.4. Latar Belakang
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan
bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi
kemanusiaanya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi
manusia. Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan,
jika pendidikan memiliki ciri khas yang secara prinsipil berbeda dengan hewan.
Ciri khas manusia yang membedakanya dari hewan
terbentuk dari kumpulan terpadu dari apa yang disebut dengan hakekat menusia.
Disebut sifat hakekat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya
dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Pemahaman pendidikan
terhadap sifat hakekat manusia akan membentuk peta tentang karakteristik
manusia dalam bersikap, menyusun startegi, metode dan tekhnik serta memilih
pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi dalam
interaksi edukatif.
Sebagai pendidik , kita wajib memiliki kejelasan
mengenai hakekat manusia Indonesia seutuhnya. Sehingga dapat dengan tepat
menyusun rancangan dan pelaksaaan usaha kependidikannya. Selain itu, seorang
pendidik juga harus mampu mengembangkan tiap dimensi hakikat manusia, sebagai
pelaksanaan tugas kependidikanya menjadi lebih profesional.
1.2 Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian latar belakang diatas, dapat
diambil beberapa rumusan masalah antara lain:
a) Apa yang dimaksud dengan sifat hakikat
manusia?
b) Bagaimana wujud sifat hakikat manusia?
c) Bgaimana pengembangan wujud sifat hakikat
manusia?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini yaitu:
a) Untuk mengenal
lebih dalam tentang sifat hakikat manusia.
b) Untuk mengetahui
wujud sifat hakikat manusia.
c) Untuk memahami
pengembangan wujud sifat hakikat manusia
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian sifat dan hakikat manusia
Menurut ahli psikologi menyatakan bahwa hakekat
manusia adalah rohani, jiwa atau psikhe. Jasmani dan nafsu merupakan alat atau
bagian dari rokhani. Sifat hakikat manusia adalah ciri-ciri karakteristik yang
secara prinsipil membedakan manusia dari hewan, meskipun antara manusia dengan
hewan banyak kemiripan terutama dilihat dari segi biologisnya.
Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan, menyusui anaknya dan pemakan segala. Bahkan carles darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera tapi ternyata gagal karena tidak ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera.
Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan, menyusui anaknya dan pemakan segala. Bahkan carles darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera tapi ternyata gagal karena tidak ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera.
Disebut sifat hakikat manusia karena secara
haqiqi sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada
hewan. Karena manusia mempunyai hati yang halus dan dua pasukannya. Pertama,
pasukan yang tampak yang meliputi tangan, kaki, mata dan seluruh anggota tubuh,
yang mengabdi dan tunduk kepada perintah hati. Inilah yang disebut pengetahuan.
Kedua, pasukan yang mempunyai dasar yang lebih halus seperti syaraf dan otak.
Inilah yang disebut kemauan. Pengetahuan dan kemauan inilah yang membedakan
antara manusia dengan binatang.
B. Sifat Hakikat Manusia
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri
karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan. Meskipun
antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi
biologisnya.
Bahkan beberapa filosof seperti Socrates
menamakanmanusia itu Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller
menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) (Drijarkara,
1962: 138) yang selalu gelisah dan bermasalah.
Kenyataan dan pernyataan tersebut dapat
menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa hewan dan manusia itu hanya
berbeda secara gradual, yaitu suatu perbedaan yang melalui rekayasa dapat
dibuat menjadi sama keadaannya, misalnya air karena perubahan temperature lalu
menjadi es batu. Seolah-olah dengan kemahiran rekayasa pendidikan orang utan
dapat dijadikan manusia. Padahal kita tahu bahwa manusia mempunyai akal dan
pikiran yang dapat dijadikan sebagai perbedaan manusia dengan hewan.
C. Komponen
sifat dasar manusia
Menurut John Amos Comenius, manusia mempunyai
tiga komponen jiwa yang menggerakkan aktifitas jiwa-raga. Tiga komponen jiwa
tersebut meliputi: syaraf pertumbuhan, perasaan dan intelek. Oleh karena itu
dikatakan, bahwa manusia mempunyai tiga sifat dasar. yaitu:
a. Sifat tumbuh-tumbuhan,
adalah salah satu sifat yang menjadikan manusia tumbuh secara alami dalam
lingkunganya berdasarkan prinsip-prinsip biologis. Sifat ini didukung oleh
syaraf pertumbuhan
b. Sifat hewani, yaitu sifat
yang mendorong manusia berkeinginan untuk mencari keseimbangan hidup. Melalui
inderanya, manusia menjadi sadar dan menuruti keinginan-keinginanya. Hal ini
disebabkan adanya perasaan di dalam jiwa manusia.
c. Sifat intelektual, yaitu sifat
yang mampu membedakan baik atau buruknya suatu obyek, dan dapat mengarahkan
keinginan dan emosinya. Sifat intelektual manusia inilah yang membedakan
manusia dari makhluk-makhluk lain. Dengan adanya sifat intelektual ini, manusia
dilebihkan derajatnya dari makhluk-makhluk lain.
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai
ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan.
Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat
dari segi biologisnya.
Bahkan beberapa filosof seperti Socrates
menamakanmanusia itu Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller
menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) yang selalu gelisah dan bermasalah.
D.
Wujud
sifat hakekat manusia
Secara garis besar,
wujud sifat hakikat manusia dibagi menjadi delapan, yaitu :
a.
Kemampuan menyadari diri.
Menurut kaum rasionalis kunci perbedaan
manusia dengan hewan pada adanya kemampuan adanya menyadari diri yang dimiliki
oleh manusia. Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh
manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya (akunya) memiliki ciri khas atau
karakteristik diri. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan
aku-aku yang lain (ia, mereka) dan dengan non-aku (lingkungan fisik) disekitarnya.
Bahkan bukan hanya membedakan lebih dari itu manusia dapat membuat jarak
(distansi) dengan lingkungannya. Sehingga mempunyai kesadaran diri bahwa
manusia mempunyai perbedaan dengan makhluk lainnya.
b.
Kemampuan bereksistensi.
Kemampuan bereksistensi
yaitu kemampuan menempatkan diri, menerobos, dan mengatasi batas-batas yang
membelenggu dirinya. Kemampuan menempatkan diri dan menerobos inilah yang
disebut kemampuan bereksistensi. Dengan kata lain, adanya manusia bukan
“ber-ada” seperti hewan dikandang dan tumbuh-tumbuhan di dalam kebun, melainkan
“meng-ada” di muka bumi.
c. Kata hati (Consecience Of
Man), adalah kemampuan membuat keputusan tentang yang baik/benar dan yang
buruk/salah bagi manusia sebagai manusia. Kata hati disebut pula hati nurani,
pelita hati, dan sebagainya.
d. Moral, disebut sebagai
etika,jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai
perbuatan , maka yang di maksud dengan moral yang sering di sebut dengan etika
adalah perbuatan itu sendiri . di sini tampak bahwa masih ada jarak antara kata
hati dengan moral . artinya seseorang yang telah memiliki kata hati yang tajam
belum tentu perbuatannya merupakan realisasi dari kata hatinya itu . untuk
menjebatani jarak yang mengantarai keduanya masih ada aspek yang di perlukan
yaitu kemauan . dari uraian tersebut dapat di simpulkan bahwa moral sinkron
dengan kata hati yang tajam yaitu yang benar-benar baik bagi manusia , sebagai
manusia merupakan moral yang baik atau moral yang tinggi .
e. Tanggung jawab, kesedian
untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab , merupakan
pertanda dari sifat orang yang bertanggung jawab . wujud bertanggung jawab
bermacam macam . ada tanggung jawab kepada tuhan , tanggung jawab kepada diri
sendiri berarti menanggung tuntutan kata hati , misalnya dalam bentuk
penyesalan yang mendalam . bertanggung jawab kepada masyarakat berarti
menanggung tuntutan norma-norma sosial . bentuk tuntutan berupa sanski-sanski
sosial seperti cemoohan masyarakat, hukuman penjara, dan lain-lain .
bertanggung jawab kepada tuhan berarti menanggung tuntutan norma-norma agama ,
misalnya perasaan berdosa dan terkutuk .
f. Rasa
Kebebasan/merdeka adalah rasa bebas (tidak terikat oleh sesuatu) yang sesuai
dengan kodrat manusia. Kemerdekaan berkait erat dengan kata hati dan moral.
Yaitu kata hati yang sesuai dengan kodrat manusia dan moral yang sesuai dengan
kodrat manusia.
g. Kewajiban dan hak.
Kewajiban merupakan sesuatu yang harus
dipenuhi oleh manusia. Sedangkan hak adalah merupakan sesuatu yang patut
dituntut setelah memenuhi kewajiban
h. Kemampuan Menghayati
Kebahagiaan , kebahagiaan itu rupanya tidak terletak pada keadaan sendiri
secara faktual ( lulus sebagai sarjana , mendapat pekerjaan dan seterusnya )
ataupun pada rangkaian prosesnya , maupun pada perasaan yang di akibatkannya
tetapi terletak pada kesanggupan menghayati semuanya itu dengan keheningan jiwa
dan menundukan hal-hal tersebut di dalam rangkaian atau ikatan tiga hal itu
yaitu : usaha , norma-norma , dan takdir . dapat di tarik kesimpulan bahwa
kebahagiaan itu dapat di usahakan peningkatannya . ada dua hal yang dapat di
kembangkan yaitu kemampuan berusaha dan kemampuan menghayati hasil usaha dalam
kaitannya dengan takdir. Dengan demikian pendidikan mempunyai peranan penting
sebagai wahana untuk mencapai kebahagiaan , utamanya pendidikan keagamaan .
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia merupakan makhluk yang sempurna. Manusia
memiliki akal untukmenghadapi kehidupannya di dunia ini. Akal juga memerlukkan pendidikan
sebagai obyek yang akan dipikirkan. Fungsi akal tercapai apabila akal itu
sendiri dapat menfungsikan, dan obyeknya itu sendiri adalah ilmu pengetahuan.
Maka dari itu, manusia pada hakikatnya adalah makhluk peadagogis, makhluk
social, makhluk individual, makhluk beragama.
Setiap manusia mempunyai hakekat dan dimensi yang
dimilikinya. Dan dalam diri manusia itu terdapat potensi–potensi terpendam yang
dapat ditumbuhkembangkan menuju kepribadian yang mantap.
3.2 Saran
Sebagai calon guru kita seharusnya memperhatikan
anak didik dan memberikan bimbingan agar potensi–potensi terpendam yang
terdapat dalam diri peserta didik dapat ditumbuhkembangkan menuju kepribadian
yang mantap.
http://tsu-basith.blogspot.com/2012/09/sifat-dan-hakekat-kejiwaan-manusia.html
Arif, A. 2010. Manusia dan Pendidikan Hakikat Manusia dan
Pengembangannya. http://m-arif-am.blogspot.com Diakses pada
Maret 2011.tanggal 03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar