Kamis, 02 Mei 2013

Pengantar Pendidikan



BAB II
Pembahasan
A.    Pengertian  Antropologi
Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata ”antrophos” berarti manusia, dan “logos” berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistic dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada  perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan manjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang sering kali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal. Definisi antropologi menurut para ahli yaitu:
1.      Wiliam A. Haviland, Antropologi adalah studi tentang manusia, berusahamenyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusi adan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
2.      David Hunter, Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
3.      Koentjaraningrat, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Secara umum, Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Sedangkan Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan Antropologi.

B.     Kebudayaan
Kebudayaan berarti semua cara hidup yang telah diperkembangkan oleh anggota-anggota suatu masyarakat. Dengan kebudayaan tertentu dimaksudkan totalitas cara hidup yang dihayati oleh suatu masyarakat tertentu yang terdiri dari cara berpikir, cara bertindak, dan cara merasa yang dimanifestasikan seperti agama, hukum, bahasa, seni dan kebiasaan-kebiasaan. Kebudayaan yang paling sederhana mencakup cara tidur, cara makan atau pun cara berpakaian. Untuk membedakan antara kebudayaan dan masyarakat adalah bahwa masyarakat adalah suatu penduduk local yang bekerja sama dalam jangka waktu yang lama untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan kebudayaan adalah cara hidup dari masyarakat tersebut, atau hal-hal yang mereka pikirkan, rasakan, dan kerjakan.
Makna kebudayaan, secara sederhana berarti semua cara hidup (ways of life) yang telah dikembangkan oleh anggota masyarakat. Dari prespektif lain kita bisa memandang suatu kebudayaan sebagai perilaku yang dipelajari dan dialami bersama (pikiran, tindakan, perasaan) dari suatu masyarakat tertentu termasuk artefak-artefaknya, dipelajari dalam arti bahwa perilaku tersebut disampaikan (transmitted) secara sosial, bukan diwariskan secara genetis dan dialami bersama dalam arti dipraktekkan baik oleh seluruh anggota masyarakat atau beberapa kelompok dalam suatu masyarakat.


C.    Isi Kebudayaan
Pada dasarnya gejala kebudayaan dapat diklasifikasikan sebagai kegiatan/aktivitas, gagasan/ide dan artefak yang diperoleh, dipelajari dan dialami. Kebudayaan dapat diklasifikasikan atas terknologi sebagai alat-alat yang digunakan, organisasi sosial sebagai kegiatan institusi kebudayaan dan ideologi yang menjadi pengetahuan atas kebudayaan tersebut. Menurut R. Linton, kebudayaan dapat diklasifikasikan atas:
Universals: pemikiran-pemikiran, perbuatan, perasaan dan artefak yang dikenal bagi semua orang dewasa dalam suatu masyarakat. Ex, bahasa, hubungan kekerabatan, pakaian dan kepercayaan.
Specialisties: gejala yang dihayati hanya oleh anggota kelompok sosial tertentu. Ex, kelompok golongan profesi.
Alternatives: gejala yang dihayati oleh sejumlah individu tertentu seperti pendeta, ulama, pelukis dan filosof.
Kebudayaan merupakan gabungan dari keseluruhan kesatuan yang ada dan tersusun secara unik sehingga dapat dipahami dan mengingat masyarakat pembentuknya. Setiap kebudayaan memiliki konfigurasi yang cocok dengan sikap-sikap dan kepercayaan dasar dari masyarakat, sehingga pada akhirnya membentuk sistem yang interdependen, dimana koherensinya lebih dapat dirasakan daripada dipikirkan pembentuknya. Kebudayaan dapat bersifat sistematis sehingga dapat menjadi selektif, menciptakan dan menyesuaikan menurut dasar-dasar dari konfigurasi tertentu. Kebudayaan akan lancar dan berkembang apabila terciptanya suatu integrasi yang saling berhubungan.
D.    Konsep Kebudayaan

1)   Defenisi Kebudayaan
Dalam artisempit kebudayaan adalah kesenian, yaitu pikiran, karya dan hasil karya manusiayang memenuhi hasratnya akan keindahan.Adapun dalam arti  luas kebudayaan adalah seluruh total daripikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berkar kepada nalurinyakarena itu hanya bias dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar . Dengan kata lain kebudayaan itu adalah keseluruhan sisstem gagasan,tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yangdijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat,1985)
2)      Unsur-unsur Universal Kebudayaan
Menurut  Koentjaraningrat ( 1984 ) terdapat 7 unsuruniversal kebudayaan, yaitu sebagai berikut.
a)        Sistem religi dan upacara keagamaan.
b)        Sistem organisasi kemasyarakatan.
c)        Sistem Pengetahuan
d)       Bahasa
e)        Kesenian
f)         Sistem mata pencaharian hidup
g)        Sistem teknologi dan peralatan

3)      Wujud Kebudayaan
 Kebudayaan paling tidak memiliki 3 wujud,yaitu sebagai berikut,
a)                       Wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu komleks dari ide-ide,gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan.
b)                       Wujud system sosial, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu komleks aktivitaskelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c)                       Wujud fisik, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karyamanusia.

4)      Saling Hubungan antara Wujud-wujud Kebudayaan
Kebudayaanideal memberi arah kepada perbuatan dan karya manusia.baik pikiran-pikiran danide-ide maupun perbuatan dan karya manusia menghasilkan benda-benda kebudayaanfisiknya.sebaliknya kebudayaan fisik itu membentuk suatu lingkungan hiduptertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alaminyahnyasehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya,bahkan juga mempengaruhi polapikirnya.
5)      Penggolongan Kebudayaan
Supardi Suparlan ( A. W. Widjaja, 1986 ) membedakan kebudayaanmenjadi 3 golongan, yaitu,
a)                       Kebudayaan Suku bangsa ( yang lebih dikenal dengan nama KebudayaanDaerah )
b)                       Kebudayaan umum lokal
c)                       Kebudayaan Nasional
6)      Sifat atau Karakteristik Kebudayaan
Kebudayaan memiliki karekteristik sebagai berikut.
a)                       Organik dan super organik. Kebudayaan bersifat organic sbabkebudayaan berakar pada organ manusia, tanpa manusia berbuat, berpikir, merasadan membuat benda-benda maka tidak aka ada kebudayaan.Kebudayaan super organikkarena kebudayaan hidup terus melampaui generasi tertentu dank arena isinyalebih merupakan hasil karya manusia daripada hasil unsur biologis.
b)                       Overt (terlihat) dan covert (tersembunyi).Kebudayaan terlihat dalambentuk-bentuk tindakan-tindakan dan benda-benda, seperti rumah, pakaian, bentukpembicaraan yang dapat diamati secara  langsung.Sedangkan tersembunyi, yakni dalam aspaek sikap dasar terhadapalam fisik dan alam gaib yang mesti diiterprestsikan pengertiannya dari apayang dikatakan  dan dilakukananggota-anggotanya.
c)                       Ideal dan aktual ( manifest ).Kebudayaan ideal terdiri atas caraberbuat/berkelakuan sesuai dengan kepercayaanya ( normative ),sedangkanbersifat actual ( manifest ) maksudnya kebudayaan itu merupakantindakan-tindakan yang nyata.
d)                      Stabil dan berubah. Terdapat hal-hal dipertahankan oleh masyarakatagar tidak tetap berubah ( stabil ),tetapi terjadi pula perubahan-perubahankebudayaan di dalam masyarakat.Para antropolog umumnya menerima ketidak tetapankebudayaan.
7)      Fungsi Kebudayaan
Kerber dan Smith ( Imran Manan, 1989 ) mengemukakan fungsi utamakebudayaan dalam kehidupan manusia,yaitu sebagai berikut.
a)                       Pelanjut keturunan dan pengasuhan anak
b)                       Pengembang kehidupan ekonomi
c)                       Transmisi budaya

E.     Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar atau disengaja guna untuk menambah pengetahuan, wawasan serta pengalaman untuk menentukan tujuan hidup sehingga bisa memiliki pandangan yang luas untuk kearah depan lebih baik dan dengan pendidikan itu sendiri dapat menciptakan orang- orang berkwalitas. Pendidikan juga merupakan suatu usaha untuk mengembangkan intelektualitas supaya cepat dan tepat dalam mencerna semua gejala yang ada. Pendidikan itu sendiri juga dapat dilakukan baik dari keluarga, lingkungan, dan sekolah. Namun dengan adanya pendidikan itu sendiri dapat menciptakan suasana penuh gejolak untuk lebih maju karena suasana proses pembelajaran secara sehat sehingga memunculkan persaingan dalam meningkatkan pengetahuan atau persaingan sehat.
F.     Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Karena tanpa pendidikan itu sendiri kita akan terjajah oleh adanya kemajuan saat ini, karena semakin lama semakin ketat pula dalam persaingan dan semakin lama juga mutu pendidikan akan semakin maju pula. Jadi pendidikan sekarang hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak ketinggalan oleh yang lain. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih memajukan pemrintah ini, maka usahakan pendidikan mulai dari tingkat SD sampai pendidikan di tingkat Universitas. Dengan itu bangsa Indonesia ini bisa bersaing dengan Bangsa-bangsa yang lain mengenai Sumber Daya Manusia (SDM).
Ngalim Purwanto (1995:11) menyatakan bahwa pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Esensi dari pendidikan itu sendiri ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda setiap masyarakat atau bangsa.
G.    Transmisi Budaya dan Pendidikan
Dalam kepustakaan antropologi pendidikan ditemukan beberapa konsep yang paling penting, yakni enculturation (pembudayaan/pewarisan), socialization (sosialisasi/pemasyarakatan), education (pendidikan) dan schooling (persekolahan).
Menurut Herskovits, bahwa enkulturasi berasal dari aspek-aspek dari pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia dari makhluk lain dengan menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya.
Proses enkulturatif bersifat kompleks dan berlangsung hidup, tetapi proses tersebut berbeda-beda pada berbagai tahap dalam lingkaran kehidupan seorang. Enkulturasi terjadi secara agak dipaksakan selama awal masa kanak-kanak tetapi ketika mereka bertambah dewasa akan belajar secara lebih sadar untuk menerima atau menolak nilai-nilai atau anjuran-anjuran dari masyarakatnya. Bahwa tiap anak yang baru lahir memiliki serangkaian mekanisme biologis yang diwarisi, yang harus dirubah atau diawasi supaya sesuai dengan budaya masyarakatnya. Sosialisasi merupakan proses yang didapat dari interaksi antara satu orang dengan yang lain sehingga budaya akan tersalurkan sedikit demi sedikit dan bertahap. Proses pembentukan kebudayaan yang didapat melaui pendidikan dibagi menjadi tiga yaitu formal, informal dan nonformal yang masing-masing aspek memiliki ruang lingkup sendiri-sendiri.
















BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan
Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata ”antrophos” berarti manusia, dan “logos” berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistic dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya.
Dengan berbudayaan tentu dimaksudkan untuk bisa hidup yang dihayati oleh suatu masyarakat tertentu yang terdiri dari cara berpikir, cara bertindak, dan cara merasa yang dimanifestasikan seperti agama, hukum, bahasa, seni dan kebiasaan-kebiasaan. Kebudayaan yang paling sederhana mencakup cara tidur, cara makan atau pun cara berpakaian.
B.     SARAN
Seharusnya di sekolah-sekolah juga perlu mengembangkan antropologi pendidikan. Kurikulum berbasis antroppologi pendidikan sangat di perlukan bagi anak didik agar anak didik serta pendidiknya mengerti dan paham asal-usul mengapa kebudayaan di sekeliling kita diadakan, apa makna dibalik kebudayaan tersebut, apa manfaat dari kebudayaan tersebut, relevankah kebudayaan itu dengan kehidupan dan kepercayaan umat manusia sebagai manusia yang beragama masa kini.






Daftar Pustaka
 Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta
Siti Waridah Q & J. Sukardi-Isdiyono.2004. Sosiologi Kelas X SMA/MA. Jakarta: Bumi Aksara, hal. 19
William A. Haviland terjemahan R. G. Seokadijo. 1988. Antropologi.Jakarta : Erlangga, hal. 9

2 komentar: